Prinsip Penulisan
Aturan menulis panduan untuk pengguna gagap teknologi, lengkap dengan sumber risetnya.
Hasil riset online 11 Juni 2026. Dipakai sebagai "aturan rumah" setiap kali menulis/merevisi panduan, naskah video, atau teks bantuan di aplikasi pesantren.online.
1. Kenali Pembacanya Dulu
Riset Nielsen Norman Group tentang pengguna literasi rendah menemukan perilaku yang berbeda dari pengguna mahir:
- Mereka membaca kata per kata (tidak memindai/skimming). Teks panjang = beban berat.
- Pandangan menyempit: elemen di pinggir layar sering tidak terlihat. Maka panduan harus menyebut LOKASI tombol ("di pojok kanan atas").
- Mereka takut salah. Satu pesan error bisa membuat berhenti total. Maka setiap prosedur wajib punya bagian "kalau ada masalah" yang menenangkan.
- Kabar baiknya: teks yang ditulis untuk pembaca lemah juga lebih disukai pembaca mahir. Tidak ada ruginya menyederhanakan.
Pembaca kita: staf pesantren yang terbiasa kerja kertas/Excel, sebagian baru pertama pakai aplikasi web, mengakses dari HP Android atau komputer warnet/kantor.
2. Sepuluh Aturan Bahasa
- Tingkat baca anak SMP. Kalau anak kelas 1 SMP tidak paham kalimatnya, tulis ulang. (Anjuran NN/g: kelas 6–8.)
- Kalimat pendek. Maksimal ±15 kata. Satu kalimat satu ide.
- Kalimat aktif & langsung. "Klik tombol Simpan" — bukan "Tombol Simpan dapat diklik untuk menyimpan".
- Tanpa jargon. Dilarang: submit, input, field, browse, upload, export tanpa penjelasan. Pakai padanan: kirim, isi, kolom isian, buka, unggah, unduh ke Excel.
- Konsisten satu istilah. Sudah pilih "masuk" untuk login? Pakai itu terus. Jangan sesekali "sign in".
- Sapaan hormat & hangat. "Bapak/Ibu" — bukan "user" atau "Anda" yang dingin.
- Angka & contoh nyata. "Isi nominal, contoh: 150000 (seratus lima puluh ribu, tanpa titik)" lebih jelas dari "isi nominal yang sesuai".
- Jelaskan istilah teknis sekali di Kamus Istilah, lalu pakai dengan percaya diri.
- Hindari singkatan kecuali sudah umum di pesantren (SPP, TU, NIS — boleh; CRUD, CSV — jelaskan).
- Analogi dunia kertas. "Filter itu seperti memilah tumpukan map: hanya map kelas 1A yang diambil."
3. Struktur Resep (template wajib tiap tugas)
Setiap tugas ditulis seperti resep masakan, dengan urutan tetap:
## Judul = kalimat tugas ("Menambah Santri Baru")
**Kapan dipakai:** 1 kalimat situasi nyata.
**Siapkan dulu:** daftar bahan (data/berkas yang harus ada di tangan).
**Langkahnya:**
1. Satu aksi saja per nomor.
2. Sebut lokasi + tampilan tombol: "klik tombol biru **Simpan** di kanan bawah".
3. Sertakan apa yang AKAN TERLIHAT setelah aksi ("layar berganti ke daftar santri").
<figure class="shot"><div class="shot-frame">📷</div><figcaption><b>Cuplikan layar:</b> layar X dengan panah ke tombol Y <span class="soon">(gambar menyusul)</span></figcaption></figure>
✅ **Tanda berhasil:** apa yang terlihat kalau sukses.
⚠️ **Kalau ada masalah:** 2–3 kesalahan umum + cara keluar + kalimat penenang
("Data tidak akan rusak. Tutup saja, lalu ulangi dari langkah 1.").
Mengapa begitu (ringkasan riset):
- Langkah bernomor urut sesuai urutan kerja — standar semua pedoman user manual.
- "Tanda berhasil" = expected result; pedoman menyarankan selalu tampilkan hasil yang diharapkan tiap langkah/tugas.
- Mulai dari "Kapan dipakai" karena pengguna mencari berdasarkan masalah ("wali tanya tunggakan"), bukan nama fitur.
4. Aturan Visual
- Otak memproses gambar jauh lebih cepat daripada teks. Setiap langkah yang melibatkan layar baru/tombol penting wajib ada screenshot.
- Screenshot diberi panah/lingkaran merah ke satu hal saja. Satu gambar satu pesan.
- Gambar diletakkan tepat setelah langkah yang dijelaskan, bukan dikumpulkan di akhir.
- Untuk dibagikan via WA: ekspor PDF dengan ukuran huruf besar (min. 12pt), karena banyak yang membaca di layar HP.
- Video pendek (1–3 menit) per tugas sangat efektif untuk segmen gaptek Indonesia — praktik umum di sekolah: video tutorial dibagikan lewat grup WhatsApp. Naskahnya di 🎬 Naskah Video Tutorial.
5. Kerangka Dokumentasi (adaptasi Diátaxis)
Kerangka Diátaxis membagi dokumentasi jadi 4 jenis — mencampurnya adalah penyebab utama dokumentasi membingungkan:
| Jenis | Bentuk di paket kita | Kapan dipakai pembaca |
|---|---|---|
| Tutorial (belajar) | 🌱 Panduan Dasar + sesi training + video | Pertama kali kenal aplikasi |
| How-to / resep (kerja) | Panduan per peran (02–06) |
Sedang mengerjakan tugas |
| Referensi (mencari fakta) | 🪪 Kartu Bantuan Cepat + tabel status/istilah | Lupa "di menu mana ya?" |
| Penjelasan (paham) | Kotak "Mengapa begini?" singkat di dalam panduan | Penasaran/ragu |
Untuk segmen gaptek, porsi terbesar = tutorial + resep. Penjelasan teori dibuat sesingkat mungkin dan tidak menghalangi langkah.
6. Uji Coba (wajib sebelum dianggap selesai)
Pedoman penulisan manual sepakat: manual harus diuji ke orang yang belum pernah pakai aplikasinya.
Cara murah untuk kita:
- Pilih 1 staf paling gaptek.
- Beri dia panduan + 1 tugas nyata ("tambahkan santri bernama X").
- Dilarang membantu. Hanya amati dan catat di mana dia berhenti/bingung.
- Setiap titik macet = bagian panduan yang harus diperbaiki (bukan orangnya yang bodoh).
- Ulangi sampai tugas selesai tanpa bantuan.
7. Sumber Riset
- Nielsen Norman Group — Plain Language for Everyone, Even Experts dan UX Writing FAQs (tingkat baca kelas 6–8, bahasa percakapan).
- Readability Guidelines — Low literacy users dan Plain English (perilaku baca pengguna literasi rendah).
- TechSmith — The Ultimate Guide to Writing User Manuals (visual, quick start, daftar isi).
- UserFocus — Tips for writing user manuals (uji coba ke pengguna baru, hasil yang diharapkan tiap langkah).
- Instructional Solutions — How to Write a User Manual (langkah berurutan, glosarium, asumsikan pembaca tidak tahu apa-apa).
- Helpjuice — 8 Tips For Writing Better User Documentation (bahasa sederhana, struktur step-by-step).
- Diátaxis — diataxis.fr (4 jenis dokumentasi: tutorial, how-to, referensi, penjelasan).
- Konteks Indonesia: Quipper — Solusi Gaptek dan praktik Guru Berbagi Kemdikbud (video tutorial via grup WA paling efektif); contoh format manual operator sekolah: SIPENSEKDIK Banjarmasin (PDF).